Tingkat Pencapaian
Kenapa dari dulu kita sudah di doktrin perihal tingkat pencapaian. Misalnya, saat TK : si ini udah bisa baca lho, udah bisa nulis dan berhitung lho kok kamu belum, kok kamu senengnya masih mewarnai aja, dari kalimat tersebut didapatkan bahwa menurut sudut pandang orang kebanyakan kalau TK harusnya pencapaiannya tuh bisa baca, nulis, hitung padahal kebanyakan mereka tidak tau yang dirasakan anak tersebut yang barang kali dia mewarnai dengan warna-warna yang baru atau mewarnai suatu hal yang baru baginya merupakan suatu pencapaiannya yang sangat berarti.
Lalu berlanjut ke SD, SMP, SMA : tingkatan tersebut memiliki tingkat pencapaian yang sama yaitu juara kelas atau ranking 1, jadi kebanyakan orang tua ingin anaknya tuh mendapatkan juara kelas atau ranking 1 sehingga di mindset anak-anaknya pencapaian mereka hanya akan diakuai apabila mereka mendapatkan rangking 1 atau minimal juara kelas, padahal di point of view atau sudut pandang anaknya yaitu mereka mengikuti sebuah kegiatan seperti pramuka, osis, kemudian perlombaan meskipun tidak juara, merupakan suatu pencapaian bagi mereka dan sebenarnya mereka tuh juga pengen dilihat dan dihargai lho pencapaiannya meskipun pencapaiannya tidak seperti tingkatan pencapaian yang telah didoktrin pada umumnya.
Maka dari itu pesan yang dapat diambil adalah sekecil apapun cerita dari anak yang ketika mereka menceritakannya dengan semangat dan merasa bangga atas suatu hal yang telah mereka lalui maka sebagai orang tua lebih bisa dalam menghargai pencaiannya anaknya sehingga sang anak tak merasa bahwa apa yang mereka banggakan itu bukanlah suatu hal yang kosong.
Komentar
Posting Komentar