SI GONGSO

 SI GONGSO

Ada sebuah kisah. Pada waktu itu hiduplah seorang anak muda bernama Gongso, Yang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang FBI. Dia lahir di Bali. Pada saat usianya sekitar 2 tahun Ia pernah merasakan kencangnya,ngerinya,dan kejamnya ledakan bom Bali. Setelah ledakan bom Bali itu gongso pindah di Bekasi. Di Bekasi gonso menjalani masa kanak-kanaknya di TK yang penuh dengan teman. Tetapi itu Cuma sementara,karena gongso hanya bisa tk di Bekasi selama 1 tahun karena pekerjaan ayahnya yang berpindah-pindah.

Kemudian gongso dan keluarganya pindah lagi di Bali dan dia dibesarkan di Bali karena mengikuti ayahnya yang kerjanya pindah-pindah. Saat di bali dia sekolah TK lagi dan disana dia hanya sekolah sampai tk saja. Keadaan TK di Bali sangat berbeda jauh saat gongso TK di Bekasi. Saat tk di Bali dia hanya orang yg culun, orang yang gak pd, dan saat disekolah dia sering sekali dibuli tapi dia tidak pernah mengadu kepada orang tuanya. 

Saat gongso lulus TK gongso pindah ke klaten karena rumahnya yang diklaten sudah jadi. Dan sampai di Klaten Gongso langsung mendapat teman yaitu Mbedul dan Aku. Di klaten gongso sekolah SD. Tapi di Klaten Gongso juga di sekolahkan Ngaji atau baca tulis Al-Quran di masjid At-taqwa. Disana murid ngajinya memang Cuma sedikit hanya aku, Mbedul dan Gongso saja. Di TPA Gongso bertemu dengan guru ngaji yang sangat ramah dan sangat menyayangi Gongso yaitu Mbah Abdullah. Dan beliau lah yang telah mengajarkannya lancar membaca Al-Quran. 

Saat SD kelas 1 gongso masih jadi penakut, tidak PD dan jadinya gongso dibully oleh teman-temannya. Tetapi dikelas dia adalah siswa yg pintar tetapi gongso hanya punya teman yang sedikit. Saat kenaikan kelas gongso mendapat juara 2 dikelasnya.

Pelajaran baru pun dimulai. Gongso skrg sudah kelas 2, dikelas 2 gongso skrg menjadi sangar dia jadi orang yg berani dan gongso skrg punya banyak teman. Saat dikelas gongso emosi karena temannya sombong banget lalu gongso langsung berkelahi dengan Jodi. Dan perkelahian pun dimenangkan oleh gongso dan jodi pun hidungnya berdarah. 

Disitulah awal mula gongso ditakuti oleh teman-temannya. Walaupun gongso kini telah menjadi sangar tetapi dia tetap sembada karena dia tetap menjadi murid yg teladan. Dan saat kenaikan kelas 3 pun gongso malah mendapat juara satu. 

Saat kelas 3 gongso menjadi orang yg biasa saja tetapi kalau dia ditantang dia akan menanggapi. Saat dikelas 3 gongso menjadi murid yang dibanggakan oleh gurunya karena dia termasuk murid yang disiplin dan dia juga ikut lomba Cerdas Cermat walaupun gak juara. Dan gongso ikut lomba lagi yaitu lomba Cerdas cermat Agama islam lalu gongso medapat juara 3 sekabupaten.

6 tahun kemudian. Saat Gongso kelas 6 SD ia menjadi orang yang sangat rajin. Saat UN SD pun tiba. Karena Gongso dan Aku termasuk murid yang pintar,Gongso dan Aku pun disuruh oleh gurunya untuk meniruni jawaban UN ke teman-teman katanya biar teman-temannya lulus semua. Aku disuruh oleh pak guru untuk niruni jawaban di ruang 2 dan Gongso disuruh meniruni di ruang 1.

UN Pelajaran pertama pun selesai kemudian aku dan gongso pulang bersama dan kita saling berbagi cerita. Aku pun berkata pada gongso “So apa ya gunanya kita sekolah waktu kelas 1 testing gak boleh tirunan harus jujur,terus waktu kelas 6 malah disuruh nirunin teman-teman,kan lucu ya”. Gongso kemudian menjawab “iya ya bro ya beginilah lucunya negeri kita yang katanya mengedepankan kejujuran masa suruh nirunin teman sekelas”. (akupun sampai rumah) “yaudah dulu So aku pulang dulu”.”ya bro”.

UN pun telah berlalu dan mungkin ini adalah hari yang sangat menjengkelkan menurutku dan menurut gongso. Karena kami yang niruni teman-teman malah aku peringkat 3 dan gongso malah peringkat 5. Disitulah gongso mulai bergumam “masa aku yang nirunin teman-teman malah aku diperingkat 5,hadeeeh”.

Akupun berkata “sudah lah So sabar mungkin itu nasibmu”(sambil menahan tawa).”kamu mah mending bro peringkat 3 lha aku peringkat 5,tapi yaudah syukuri aja kan itu hanyalah sebuah nilai yang tidak menentukan 100% kesuksesan kita”. Aku pun berkata “bener banget tu So”.

6 tahun pun berlalu kini gongso telah menempuh hidup baru yaitu sekolah smp di MTs bersama denganku dan dengan Mbedul. Di mts gongso jadi berubah drastis. Disana dia jadi orang yang sangar bisa dibilang seperti brandalan, dan saat di smp gongso seperti kehilangan jadi dirinya. Gongso yang dulunya sopan, pintar, dan disiplin sekarang dia menjadi bringas

Saat kelas 2 kebringasan Gongso semakin menjadi dia mulai suka berkelahi dengan teman-temannya. Dan Gongsopun juga pernah menantang berkelahi wali kelasnya sendiri. Dan saat kelas 2 juga gongso pertama kali tawuran antar desa, disitu desa gongso bermasalah dengan desa sebelahnya. Saat tawuran Gongso babak belur tapi desanya Gongso memenangkan tawuran itu. 

Setelah tragedi tawuran itu Gongso pun mulai tobat karena dirinya mulai sadar disitulah masa kelamnya bahwa menjadi bringas dan sering berkelahi itu tidak baik untuk masa depannya. Lalu saat kelas 3 smp gongsopun mulai menjadi dirinya lagi yaitu dia mulai rajin belajar, disiplin, dan patuh terhadap gurunya. Saat UN pun tiba gongso berusaha keras untuk mendapat nim terbaik, tapi apalah daya Gongso hanya mendapat nim 27 dan berada di peringkat 15.

Kemudian setelah kelulusan Gongso dan Mbedul pun memilih sekolah yang berbeda-beda. Tapi aku masuk kesekolah yang sama dengan Gongso. Tetapi pertemanan kita akan tetap terjaga walaupun sekolah kita berbeda, jalan kita sudah berbeda, dan tujuan kitapun berbeda.

Setelah lulus smp Gongso pun melanjutkan sekolah nya di Smk. Di smk gongso memilih jurusan tkj dan listrik. Saat masuk Smk Gongso menjali berbagai macam tes, dan Gongso lulus semua tesnya. Saat pengumuman pun tiba gongso pun diterima di jurusan listrik dan Gongso pun agak kecewa tapi dia juga senang karena diterima di sekolah yang diimpikannya. 

Di Smk Gongso mendapatkan banyak teman juga. Disana Gongso mulai mempelajari tentang hal yang belum pernah ia pelajari sewaktu di smp. Disana Gongso mulai mendapat materi pelajaran baru seperti cara pemasangan listrik,elektronika dan lain-lain. Di smk dia juga rajin,disiplin.

Pada suatu ketika saat gongso berangkat sekolah dia terburu-buru karena sudah jam setengah tujuh lebih. Lalu Gongso langsung berangkat saja tanpa mengecek apapun. Dan saat sampai disekolah Gongso pun dihadang oleh Pak Guru dan gongso pun berkata dalam hatinya : “wah ada apa ini kok saya disuruh pak guru berhenti” . Kemudian gongso pun dintanya pak guru “dasimu dimana le”. Gongso pun kaget kalau dia tidak membawa dasi. Kemudian Gongso pun berkata “dasi saya ketinggalan pak”. Pak guru pun menjawab “yaudah kalau gitu motor kamu kuncinya saya ambil sampai kamu beli dasi”. Gongso pun bergumam dalam batin “wah ini guru kok kocak ya jam segini suruh beli dasi,koperasi belum buka lah” ( Gongso pun berlari mencari dasi ).

Kemudian gongso pun menuju ke kelasnya untuk pinjam dasi temannya yaitu Kentung, agar kunci motornya dibalikin. Dan Gongso pun dipinjami temannya dasi kemudian gongso kembali lagi menemui pak guru yang menyita kuncinya tadi. Dan gongso pun memimta kuncinya sambil berkata “ini pak dasi saya ternyata ketinggalan di kelas dan dirawati teman saya pak”. Dan pak guru pun berkata “mana, coba pinjem dasi nya,nah ini punyanya kentung kan itu ada tulisannya Kentung”. Gongso pun kembali menjawab “wah paling itu lupa pak,ke tuker pak”. Pak guru pun menjawab “ya udah ini kuncinya tapi ini dasinya saya sita ya”. Gongso pun mengambil kuncinya sambil “wah anjay,apes-apes udah dasi teman disita lagi”. Disitulah sedisiplin-disiplinnya seseorang pasti akan melakukan kesalahan juga.

Saat pulang sekolahpun tiba gongso pun merenung sambil berkata “udah berangkat kesiangan gak bawa dasi sampai disekolah kunci motor diambil suruh beli dasi,pinjem dasi temen ketauan terus disita,apes-apes”. Disitulah gongso merasa seperti dipermainkan oleh dunia yang penuh dengan drama.

Sesampainya dirumah gongso kemudian berbaring dan membayang kan suatu hal “apakah saya bisa mencapai cita-citaku jika begini”.kemudian gongso menyetel tv dan menonton berita tentang garam yang mulai langka kemudian gongso berkata “seperti ini pemerintahan yang penuh sandi wara di Indonesia ini padahal banyak lautnya tapi garam bisa langkah,hehehe (sambil tertawa) terus pemerintah kerjanya ngapain ya kalau garam aja bisa langka”. Gongso pun tertidur lelap sambil TV menyala.

Saat jam 8 malam Gongsopun terbangun kemudian ia pergi mencari angin malam bersama temannya yang pastinya yaitu Aku dan mbedul. Kita sangat akrab sekali,Kita berteman sejak gongso di klaten prinsip kita adalah sangar bareng sukses bareng. Kemudian kita pun pergi ke alun alun. 

Di alun-alun kita bergurau dan bercanda sambil melihat langit yg sangat indah dengan bintang-bintangnya yang bertaburan. 

Disana kita pun bercerita tentang cita-cita kita. Gongso pun bertanya kepada mbedul tentang apa cita-citanya nanti. Dan mbedul pun menjawab “cita-citaku saat besar nanti aku ingin sekali mengubah nasib keluargaku yang tidak punya menjadi orang yang punya, dan aku tidak akan melupakan jasa orang-orang yang selalu mendukungku”.”cita-citamu sendiri apa so ?”.gongso pun menjawab “cita-citaku sendiri sih aku ingin menjadi FBI dan jika bisa aku ingin merombak pemerintahan di negeri ini,karena sekarang di negeri ini seperti tidak ada keadilan,apa-apa tentang uang”. Gongso pun bertanya kepadaku “kalau kau pengengen jadi apa bro”. Aku pun menjawab “kalau cita-cita ku sih simpel yaitu pengen jadi orang yang sukses dunia dan akhirat So, kalau bisa sih aku pengen kerja ke luar negeri So”. Gongso pun berkata kepada kita berdua “cita-cita kita mungkin ketinggian ya bro”. Aku dan Mbedul pun menjawab “ya enggak lah So, kalau Tuhan menghendaki pasti cita-cita kita akan terkabul”. Gongso pun menjawab “oh iya, ya bro”.

Waktu sudah mulai larut malam kemudian kita pun pulang kerumah masing-masing. Sesampainya dirumah, Gongso pun menyetel TV sebentar dan saluran TV nya isinya politik semua. Karena dia bosan kemudian Gongso pun mematikan TV nya dan kemudian tidur.

Pagi pun telah tiba. Karena hari ini hari minggu Gongso, aku, dan Mbedul Car Free Day di Alun-alun. Kita kesana menggunakan sepeda. Sebelum ke alun-alun kami mampir dulu ke stadion Trikoyo untuk jogging dulu sebentar. Setelah jogging kami pun melanjutkan perjalanan ke Alun-alun Klaten. 

Disana kita beli berbagai macam makanan karena kami sedang kelaparan habis jogging tadi.Kemudian kami juga mampir ke warung soto. Dan saat disana ada kejadian yang lucu disana yaitu bodohnya Si Gongso yang makan banyak tapi lupa uangnya lupa tidak dibawa. Gongso pun pinjam uang kepada ku dalam batinku "gongso-gongso, makan banyak kok sampai lupa uangnya gak dibawa" (sambil tertawa). Kemudian aku pun bilang ke Gongso "wah uang ku habis So maaf ya" padahal uangku masih hehehe biarin Gongso gue kerjain". Gongso pun ganti pinjam uang ke Mbedul. Mbedul pun menjawab "wah uangku juga habis So". Gongso pun berkata "waduh gawat ini, pasti nanti suruh cuci piring". "hahaha yaudah So jalanin aja". 

Kemudian kami pun membayar dan Gongso pun tidak punya uang. Kemudian Gongso benar-benar disuruh cuci piring oleh pemilik warung itu. Dan kami pun menunggunya di taman. Setengah jam pun berlalu, Gongso pun sudah selesai mencuci semua piringnya. Gongso berkata "hadeh kalian berdua itu pinjemin uang pada gak mau, jadinya gue disuruh cuci piring deh". Aku dan Mbedul pun berkata "hahaha maaf lah So, kan uang kita habis". Batinku "kapok kamu So, makanya kalau makan banyak cek dulu uangnya". 

Setelah itupun kami kembali pulang kerumah. 

Malam pun tiba. Kemudian Gongso mengajakku pergi keluar untuk beli bensin karena bensinnya sudah menipis. Kemudian kami pun pergi ke pom bensin Krapyak. Dan disana antriannya pun sedang sedikit. Kemudian giliran kami pun tiba. Gongsopun membuka jok motornya. Dan saat bensinnya mau diisi. Gongso pun lupa gak bawa dompetnya dan gak bawa uang sepeserpun. Aku pun berkata”kamu kok tolol banget sih So, tadi beli soto uang gak bawa sekarang beli bensin udah giliran kita ngisi kamu lupa bawa dompet, terus gimana nih So”. Gongso pun berkata “santai aja Bro, gimana kalau kita kabur aja”. Aku pun menjawab “yaudah ayo So cepat”. Kemudian Gongsopun menutup lagi jok nya kemudian kami pun langsung kabur dengan cepat. Disitulah kami merasa sangat malu dan kami juga seperti gembira karena ngeprank bapak-bapaknya yang ngisi bensin. 

Setelah itu Gongso pun balik ke rumah dulu untuk mengambil uangnya buat beli bensin. Setelah Gongso mengambil uang, kemudian kami pun kembali lagi pergi beli bensin tapi kami beli besinnya di tempat yang berbeda karena kita sudah malu beli bensin ditempat yang tadi. Kami pun mengisi bensin ke pom bensin di dekat masjid agung. 

Setelah selesai mengisi bensin kemudian kamipun menuju ke alun-alun, biasalah nongkrong dulu. Di alun-alun kita cuma mampir ke angkringan untuk beli es teh saja, sambil ngobrol-ngobrol gak penting. Setelah minuman kita habis kemudian kita pulang kerumah karena besok sekolah. Gongso pun mengantarku pulang kerumahku dulu.

Sesampainya di rumah Gongso pun langsung tidur karena dia sudah ngantuk banget. Pagi pun menjelang, Gongso bangun kemudian mandi dan siap-siap untuk berangkat ke sekolah seperti biasanya. Di sekolah Gongso belajar seperti biasa. Pulang sekolah pun tiba, Gongso pun mengambil motornya. Gongso pun tidak langsung pulang tetapi dia menjemput si Mbedul dulu karena sekolahan mereka pulang nya sama. 

Kemudian Gongso dan Mbedul pun main dulu. Mereka pergi main ke GreenVillage yang katanya ada flying fox yang panjang banget. Sesampainya di GreenVillage mereka istirahat dulu dan menikmati hijau nya pepohonon dan indah nya alam ciptaan tuhan yang dilihatnya dari atas. Setelah istirahat beberapa menit Gongso kemudian mencoba menaiki flying fox nya. 

Karena Mbedul tidak berani kemudian Gongso pun naik sendiri dan Gongso merasakan sensasi yang menegangkan, dia merasa seperti terbang. Ternyata flying fox itu benar-benar jauh karena flying fox yang dinaiki Gongso itu jaraknya dari Green Village sampai ke Gunung Api Purba atau sering disebut GAP. Setelah sampai di GAP Gongso naik flying fox lagi untuk kembali ke Green Village lagi untuk menjemput Mbedul. Sesampainya Green Village Gongso dan Mbedul pun pulang kerumah. 

2 tahun kemudian. Dimana kita bertiga sekarang sudah kelas 3 smk. Saat kelas 3 kami pun sudah jarang nongkrong apalagi main bareng. Sekarang semua nya sudah sibuk sendiri-sendiri. Karena kelas 3 sekarang kita semua juga fokus belajar untuk menghadapi UN. Kami bertiga yang telah lama tidak mengaji dan jarang ke masjid. Mulai saat ini kita rutin mengajar ngaji adik-adik TPA dan sekarang kita juga rajin ke masjid terus. 

Ujian Nasional pun berlangsung, Gongso pun mengerjakan soal dengan penuh ketelitian dan disertai doa. Saat dia mengerjakan soal dia selalu berdoa untuk dimudah kan oleh Allah dan Dia berdoa agar nilai ujiannya diatas 85 semua. Gongso pun selesai mengerjakan ujian kemudian Gongso mengambil motornya dan pulang kerumah. 

Sesampainya di rumah Gongso istirahat sebentar kemudian sholat Dhuhur di masjid bersama Mbedul dan Aku. Sesudah sholat Dhuhur kami pun melanjutkan mengaji Al-Quran di masjid sampai adzan Ashar. Selang beberapa jam kemudian kami pun selesai tadarus quran dan waktu sholat ashar pun tiba. Karena hari ini yang adzan jatah nya Gongso jadinya Gongso lah adzan. Ternyata suara adzan Gongso sangat merdu sekali. Dan sholat ashar pun tiba kami pun sholat berjamaah. 

Setelah sholat ashar selesai kami pun pulang kerumah untuk mandi dan kemudian mengajar ngaji adik-adik TPA. Ternyata Aku dan Mbedul berhalangan hadir karena kami mewaliki lomba cerdas cermat agama di desa. Kemudian yang mengajar ngaji hanya Gongso saja. Saat mengajar ngaji ada salah seorang murid yang bertanya kepada Gongso begini “Mas saya mau nanya, gimana perasaan mas Gongso kalau kehilangan orang yang pernah berjasa buat mas Gongso”. Gongso pun menjawab “Perasaan mas sih pastinya sedih, tapi mas harus tetap tegar dan mendoakannya karena kita hidup di dunia ini kan tidak tahu kapan ajal kita di jemput”. Murid itu pun menjawab “Oh, gitu ya mas”. Gongso pun menjawab “iya dek”. “Karena adzan magrib sudah berkumandang kita sudahi dulu ya ngaji nya”. “iya mas”. 


Setelah sholat magrib Gongso pun pulang kerumah. Saat perjalanan pulang Gongso seperti teringat kepada Mbah Abdullah. Dan sesampainya dirumah Gongso berniat menjenguk Guru besar nya tersebut. Tetapi karena cuaca hujan deras dan angin Gongso tidak diperbolehkan oleh ibunya untuk keluar. Isya’ pun tiba Gongso kemudian sholat dirumah karena cuaca diluar sedang tidak mendukung. Setelah sholat isya’ Gongso pun belajar untuk menghadapi Ujian Nasional yang terakhir. Setelah Gongso selesai belajar Gongso pun tidur. 

Pagi pun telah tiba Gongso pun berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian nasional yang terakhir. Saat sampai disekolah Gongso belajar lagi agar dia bisa menjawab soal ujian dengan jawaban yang benar. Ujian pun berlangsung Gongso pun berdoa agar dimudahkan semuanya. Gongso pun mulai mengerjakan soalnya dan dia berserah diri pada Allah karena seginilah usaha yang bisa dilakukan oleh Gongso. 

3 minggu kemudian. Ujian Nasional pun telah berakhir dan inilah saatnya Gongso menerima hasil ujian nya. Kemudian Gongso mendekat menuju ke papan nilai dan ternyata Gongso berhasil mendapatkan nim 35,8 dan berada di peringkat 5 besar. Gongso sangat senang sekali. Kemudian Gongso pun pulang dan ia akan mempersembahkan nilai itu kepada Guru besarnya yaitu Mbah Abdullah. Saat Gongso menuju kearah rumah Mbah Abdullah ternyata jalannya ditutup karena ada layu-layu. 

Disini Gongso mulai berpikiran negatif. Kemudian saat dijalan Gongso bertemu dengan Aku dan Mbedul. Gongso pun bertanya kepada kami “bro kok jalan ke rumah Mbah Abdullah ditutup kenapa ya”. Aku pun menjawab “emang kamu belum tahu So”. Gongso pun menjawab “belum tahu apanya”. Mbedul menjawab “yaudah sekarang kamu ikut kita aja kerumahnya Mbah Abdullah, tapi kamu jangan kaget”. Gongso pun menjawab “yaudah ayo”. 

Saat sesampainya kami disana Gongso pun terkejut karena guru besar nya itu telah meninggalkannya untuk selamanya. Saat disitu Gongso sangat sedih dan dia meneteskan air mata nya. Aku dan Mbedul pun menyampaikan amanah terakhir dari Mbah Abdullah yang ditulisnya disurat kepada Gongso. Kemudian Gongso membaca surat itu yang isinya “Gongso jadi lah orang yang selalu patuh kepada Allah, patuh terhadap orang tua dan guru-gurumu dan orang yang selalu berjasa untukmu, Gongso Mbah memang hanya bisa mengajari mu membaca Al-Quran tapi teruskanlah itu semua kepada adik-adik mu, Teman mu juga pernah cerita pada mbah kalau kamu besok pengen jadi Tentara Amerika, jadi raihlah cita-citamu itu tapi jika cita-cita mu sudah tercapai kamu jangan sampai lupa terhadap teman-teman mu, jangan sombong, dan yang paling penting jangan sampai kamu lupakan sholatmu ya nak”. 

Itulah isi surat dari mbah Abdullah dan Gongso pun tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya meneteskan air matanya saja. Kemudian kami pun mengajak Gongso untuk pulang. Sesampainya dirumah Gongso masih membaca surat dari gurunya itu terus. Gongso merasa sangat kehilangan sosok Guru yang mengajarinya tentang agama. 

Setelah meninggalnya Mbah Abdullah Gongso sekarang menjadi orang yang lebih tegar dan penuh semangat. Saat kelulusan tiba kami 3 semprul merayakan kelulusan dg teman-teman dekatku. Lalu kita hanya merayakannya di alun-alun karena disitulah keluh kesah kami tercurahkan. Dan itulah terakhir kali Aku, Mbedul, dan Gongso bertemu. Disitulah kita menempuh berjalanan baru. Gongso meneruskan pendidikannya ke ITB dan setelah ia lulus nanti ia sangat yakin untuk mencapai cita-citanya yaitu menjadi FBI, Mbedul mulai berangkat bekerja di isuzu Jakarta akhirnya Mbedul bisa membuktikan bahwa berasal dari orang tua yang miskin bisa membuatnya sukses dan tidak diinjak-injak oleh orang lain lagi. Dan aku mencari beasiswa untuk bisa ke meneruskan pendidikan Amerika dan bekerja disana. 

Selamat menempuh hidup yang baru kawan. "Jangan lupa ingat teman-teman mu yang selalu mendukungmu" , itulah ucapan terakhirku untuk mereka sebelum mereka pergi merantau untuk melanjutkan pendidikan dan melanjutkan untuk bekerja 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mbah Uti Ngentak❤️

Terimakasih Untuk Kekasih Dan Ibu Keduaku

Kuatin Lagi Yok Bahu nya